Wecarejatim.com, Surabaya – Ikatan Putra Putri Madura (IPPAMA) buka suara soal kasus pengangiayaan hingga menyebabkan satu orang meninggal dunia di Ketapang Laok, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang.
Ketua IPPAMA, Acik Kusuma menilai jika penghabisan ngawa seseorang lantaran perbedaan politik justru berawal dari keserakahan nafsu birahi serta rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) di satu wilayah.
Hal itu kata Acik, justru akan mudah dijadikan alat politik sehingga banyak tumbal yang berjatuhan karna taklid buta politik.
“Jika boleh meminjam istilah pesan inspiratif Gus dur, tidak ada tahta dan kekuasan yg harus dipertahankan mati-matian. Sebab Kemanusian dan humanisme lebih tinggi di atas politik,” ucap Acik menirukan pesan Gus Dur.
Atas insiden penganiyaan di Kabupaten Sampang, lanjut Acik, justru menjadi preseden buruk yang sudah memporak-porandakan bangunan berbagai aspek. Sebagai perwakilan pemuda di Madura, pihaknya merasa terpukul lantaran kasus di Ketapang, Sampang, Madura itu, menjadikan stigma buruk yang tetap melekat pada Sampang, dan Madura secara umum.
“Carok dalam tanda kutip ini akan terus mengisolir madura, lalu Investor mana yang akan berani masuk ke Madura jika preseden buruk terus menghantui daerah kita,” ujarnya.
Kata Acik, indiktor keberhasilan sebuah daerah bisa diketahui melalui tiga aspek, meliputi, indeks komposit sosial, Indeks komposit lingkungan, dan indeks komposit pedidikan. Tiga hal ini harus berjalan bersama-sama.
“Ironis sekali jika anak cucu kita terus diwarisi tradisi kelam. Maka kami himbau kepada aparat penegak hukum untuk tidak lengah mendeteksi daerah mana yang berpotensi konflik agar senantiasa diantisipasi,” tukasnya.







