Sampang

Memaknai Sikap Diam Bupati Sampang Soal Ganti Rugi Kerusakan Rumpon Nelayan

×

Memaknai Sikap Diam Bupati Sampang Soal Ganti Rugi Kerusakan Rumpon Nelayan

Sebarkan artikel ini
IMG 20250812 WA0042

Wecarejatim.com, SAMPANG – Sengkarut ganti rugi ribuan rumpon atau rumah ikan milik nelayan Pantura Madura terus bergulir tanpa titik terang.

Petronas sempat mengeluarkan pernyataan jika segala bentuk tanggung jawab kerusakan, termasuk dana ganti rugi, untuk meminta keterangan pada Bupati Sampang, H Slamet Junaidi.

Salah satu nelayan asal Desa Masaran Kecamatan Banyuates menilai sikap diam Bupati Sampang tak mencerminkan potret seorang pimpinan daerah. Alih-alih menjawab secara langsung, Bupati justru bungkam.

Kata Halil, sikap diam ini menimbulkan beragam tafsir. Sebagian nelayan menilai diamnya Bupati sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak memicu polemik lebih besar. Namun, ada pula yang menganggapnya sebagai sikap menghindar dari tanggung jawab menjelaskan nasib para nelayan yang rumponnya rusak.

Dirinya bahkan menantang agar Bupati Sampang segera buka mulut dan memberikan konfirmasi secara terang-benderang.

“Bukan jawaban langsung yang kami terima dari Bupati, malah keluar suara-suara orang yang kesannya membela Bupati Sampang, ini kan aneh,” tukas Halil.

Dia juga mengaku berang pada sikap petronas yang dinilai tak tegas. Halil meminta petronas segera mengambil sikap soal kepastian ganti rugi nelayan.

“Kalau memang dananya ada di Bupati Sampang, ya silakan komunikasikan. Jangan diam. Jangan jadikan nelayan korban permainan lempar tanggung jawab,” kecamnya.

Halil pun menyebut kekecewaan Nelayan Pantura makin bertambah kala Petronas menggelar sosialisasi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk rencana eksploitasi Sumur Hidayah.

Sosialisasi yang berlangsung di sebuah Hotel Mewah di Surabaya, Selasa (12/8/2025) itu dinilai bentuk pengabaian serta penghinaan terhadap masyarakat pesisir.

“Seharusnya sosialisasi itu dilakukan di Sampang, bukan di Surabaya. Sumur Hidayah itu letaknya di perairan Pantura Madura, bukan di depan pintu hotel Surabaya,” tegasnya.

Halil menolak keras rencana eksploitasi migas sebelum ganti rugi rumpon diselesaikan. Menurutnya, Petronas dan PT Elnusa tidak bisa berlindung di balik agenda baru sambil menelantarkan janji kepada nelayan.

“Petronas dan PT Elnusa jangan bohongi rakyat. Kalau rumpon belum diganti rugi, jangan mimpi eksploitasi migas di Sumur Hidayah. Ini perairan kami, bukan milik perusahaan asing untuk diambil seenaknya,” ujarnya lantang.