Wecarejatim.com, Surabaya – M. Noor Nugroho, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, optimis perekonomian akan tetap kuat. Ekonomi Jawa Timur tumbuh 4,91 persen (yoy) pada Triwulan III 2024, meski melambat dari 4,98 persen (yoy).
Nugroho menyampaikan optimisme ini dalam Temu Media yang diadakan oleh beberapa lembaga terkait. Acara ini bertujuan menjaga stabilitas ekonomi menghadapi tantangan global di tahun 2025.
Perlambatan ekonomi disebabkan oleh moderasi net ekspor dan kenaikan impor. “Kenaikan impor terutama pada bahan baku, termasuk besi baja, mempengaruhi pertumbuhan,” jelas Nugroho, Rabu (6/11/2024)
Kinerja Lapangan Usaha (LU) Pertanian juga berkontribusi pada perlambatan. “Normalisasi pasca panen raya padi di Triwulan II 2024 berdampak pada produksi cabai rawit,” tambahnya.
Inflasi IHK Jawa Timur tercatat 0,15 persen (mtm) pada Oktober 2024. “Inflasi tahunan mencapai 1,66 persen (yoy), masih dalam rentang sasaran,” ungkap Nugroho.
Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari, menyatakan industri jasa keuangan tumbuh solid. “Penghimpunan dana pihak ketiga dan penyaluran kredit masing-masing tumbuh 6,10 persen dan 7,66 persen,” katanya.
Pertumbuhan industri pasar modal juga menunjukkan tren positif. “Sampai September 2024, 53 perusahaan dari Jawa Timur telah go public,” jelas Yunita.
Industri pembiayaan mencatatkan pertumbuhan signifikan. “Total pembiayaan per Agustus 2024 meningkat 10,51 persen (yoy),” ujar Yunita.
Kepala Kantor Perwakilan LPS II, Bambang S. Hidayat, menyebutkan jaminan simpanan nasabah sangat tinggi. “99,95 persen rekening nasabah di Jawa Timur dijamin oleh LPS,” katanya.
Pendapatan negara hingga 31 Oktober 2024 mencapai Rp211,65 triliun. “Penerimaan pajak tumbuh 7,79 persen (yoy), dengan kontribusi terbesar dari sektor jasa keuangan,” ungkap Didyk Choiroel.
Belanja negara juga mendukung kesejahteraan masyarakat. “Belanja untuk sektor pendidikan dan infrastruktur mendominasi realisasi anggaran,” tutup Didyk.







