WECAREJATIM.COM | BANGKALAN – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) terus memperkuat jejaring internasional melalui kegiatan akademik global. Fakultas Keislaman UTM menggelar International Guest Lecturer pada Selasa (31/03/2026) dengan menghadirkan akademisi dari Universiti Malaya, Imamuddin.
Kegiatan yang berlangsung di Aula RKB C tersebut mengangkat tema “Bridging Innovation: Sinergi Akademik Indonesia–Malaysia dalam Menghadapi Tantangan Global di Era Digital Perspektif Maqashid Syariah.” Acara ini diikuti mahasiswa, khususnya semester 4, sebagai bagian dari penguatan wawasan global dan akademik lintas negara.
Dalam pemaparannya, Imamuddin menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital harus tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman. Menurutnya, inovasi tidak hanya berbicara soal kecanggihan teknologi, tetapi juga harus selaras dengan etika dan moral.
“Kolaborasi Indonesia dan Malaysia sangat penting karena memiliki kesamaan nilai budaya dan keagamaan. Ini menjadi kekuatan dalam menghadapi disrupsi global,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa konsep Maqashid Syariah menjadi landasan penting dalam menilai dampak inovasi digital. Prinsip tersebut meliputi perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
“Setiap inovasi harus membawa maslahat dan meminimalisir mafsadat. Ini penting terutama di tengah tantangan seperti hoaks, penyalahgunaan data, hingga perkembangan kecerdasan buatan,” jelasnya.
Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Diskusi interaktif pun terjadi, terutama terkait implementasi kolaborasi akademik dalam kurikulum dan riset lintas negara.
Pihak Fakultas Keislaman UTM menilai kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga memiliki integritas moral berbasis nilai keislaman.
Melalui sinergi akademik ini, UTM berharap dapat terus memperluas kerja sama internasional, khususnya dengan institusi pendidikan di kawasan Asia Tenggara. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan inovasi yang berdaya saing global sekaligus berakar pada nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.








