Wecarejatim.com | BANGKALAN – Kondisi santriwati korban dugaan pelecehan seksual oleh oknum lora di salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Kecamatan Galis, Bangkalan, hingga kini masih memprihatinkan. Trauma mendalam diduga kuat masih membekas pada korban usai peristiwa yang menggemparkan tersebut.
AF, salah satu anggota keluarga korban, mengungkapkan bahwa kondisi psikis korban belum stabil. Korban kerap menangis tanpa sebab dan sering melamun.
“Anaknya sering nangis, kadang bengong sendiri,” ungkap AF dengan nada prihatin.
Saat ditanya mengenai keberadaan korban selama dua pekan sebelum ditemukan, AF menyebut korban mengaku berpindah-pindah tempat sambil terus menangis.
“Katanya selama itu pindah-pindah, ceritanya sambil nangis,” tambahnya.
Keluarga menilai korban membutuhkan pendampingan psikologis lanjutan, karena perilakunya menunjukkan tanda-tanda tekanan mental berat akibat dugaan tindak kekerasan seksual yang dialaminya.
Diketahui sebelumnya, korban ditemukan dalam kondisi lemah di sekitar kaki Jembatan Suramadu. Keberadaan korban terungkap setelah pihak keluarga menerima panggilan dari nomor privat. Mirisnya, saat ditemukan korban tidak membawa telepon genggam.
Kasus dugaan pencabulan yang menyeret oknum lora tersebut kini ditangani langsung oleh Polda Jawa Timur. Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Abast, menyampaikan bahwa proses hukum terhadap tersangka terus berjalan.
“Penyidik telah menyerahkan berkas perkara tahap I atas nama tersangka UF ke pihak kejaksaan,” jelas Kombes Pol Abast. Dikutip dari media Hub Polri (12/1).
Kasus ini menyedot perhatian publik dan memicu keprihatinan luas, mengingat dugaan pelaku berasal dari lingkungan yang seharusnya menjadi ruang aman dan tempat pendidikan moral bagi para santri.







