Regional

Gresik Alami Inflasi, Harga Sembako Meroket

×

Gresik Alami Inflasi, Harga Sembako Meroket

Sebarkan artikel ini
kendalikan harga bahan pokok tki

Wecarejatim.com, GRESIK – Harga komponen penyumbang inflasi makanan di Kabupaten Gresik pada Desember 2024 mengalami kenaikan signifikan, yaitu sebesar 1,51 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya yang tercatat hanya 0,97 persen.

Kepala BPS Gresik Gresik, Indriya Purwaningsih mengatakan, kenaikan ini menunjukkan adanya tekanan harga yang cukup besar di sektor pangan, yang berimbas pada biaya hidup masyarakat di Gresik.

BPS Kabupaten Gresik melaporkan bahwa inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau berkontribusi sebesar 1,34 persen terhadap total inflasi di daerah ini pada bulan Desember.

“Ini menjadikan sektor makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang utama inflasi di Kabupaten Gresik, dibandingkan dengan delapan kelompok inflasi lainnya yang diukur oleh BPS,” jelasnya.

BPS mencatatkan Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau di Kabupaten Gresik berada di angka 107,6 pada Desember 2024, yang menunjukkan kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat di angka 106.

“Kenaikan ini mengindikasikan adanya peningkatan harga barang dan jasa yang berhubungan dengan sektor pangan dan konsumsi masyarakat. Hal ini menjadi perhatian, mengingat dampaknya terhadap daya beli masyarakat,” jelasnya.

Secara rinci, inflasi berdasarkan subkelompok di sektor makanan, minuman, dan tembakau di Kabupaten Gresik pada Desember 2024. Di antaranya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau capai 1,34 persen, kelompok makanan mencapai 1,51 persen.

Kemudian, kelompok minuman yang tidak beralkohol hingga 0,9 persen. Terakhir, kelompok rokok dan tembakau sebesar 0,09 persen.

Dari angka-angka tersebut, dapat dilihat bahwa sektor makanan memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi di Gresik, diikuti oleh kelompok minuman yang tidak beralkohol. Sementara itu, rokok dan tembakau mencatatkan inflasi yang relatif lebih rendah, yakni 0,09 persen.

Jika dibandingkan dengan 150 kabupaten/kota lainnya di Indonesia, inflasi makanan, minuman, dan tembakau di Kabupaten Gresik tergolong moderat. Inflasi tertinggi terjadi di daerah lain dengan angka 1,6 persen, yang tercatat di daerah dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,34.

Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Jayawijaya, Papua, dengan angka 4,5 persen dan IHK sebesar 117,86. Untuk Kabupaten Gresik sendiri, angka inflasi ini menempatkannya pada urutan ke-80 di antara kabupaten/kota lain.

Kenaikan inflasi di sektor makanan dan minuman di Kabupaten Gresik dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk ketidakstabilan harga bahan pangan, peningkatan permintaan menjelang akhir tahun, dan fluktuasi harga bahan bakar yang mempengaruhi biaya distribusi.

Selain itu, faktor cuaca yang tidak menentu juga dapat memengaruhi hasil pertanian dan menyebabkan lonjakan harga pangan.

Inflasi yang terus meningkat dapat memengaruhi daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah.

Kenaikan harga bahan pangan yang signifikan akan berdampak pada pola konsumsi rumah tangga, di mana mereka mungkin harus mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan lainnya.

“Oleh karena itu, pemantauan terhadap harga pangan dan kebijakan pengendalian inflasi menjadi hal yang penting agar dampaknya tidak semakin memperburuk kondisi ekonomi masyarakat,” pungkasnya

Sumber: RadarGresik/Mid