Tradisi Mantu Kucing Di Banyuwangi Sebagai Ritual Tolak Balak

143 dilihat
F40BC7C7 15D4 4CE0 A565 E3002E5FEC64
A-AA+A++

Wecare Jatim- Selain ada berbagai suku dan budaya, di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, juga memiki beragam tradisi yang serat makna warisan leluhur.

Ada beberapa tradisi yang terbilang unik dan bahkan tidak masuk akal. Salah satu tradisi yang unik di Kabupaten berjuluk Bumi Blambangan ini adalah tradisi mantu kucing. Tradisi ini adalah sebuah ritual meminta hujan yang dilakukan oleh masyarakat adat setempat.

Tradisi mantu kucing ini biasa dilakukan oleh warga Dusun Curahjati, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo. Setiap tahunnya tradisi ini selalu dilakukan di saat musim kemarau tiba. Kemarau panjang tentunya akan membawa dampak bagi banyak masyarakat setempat.

Tanaman mengering, sumber air mengecil, keprluan perawatan pertanian meningkat dan berbagai dampak lainnya. Terakhir kali, tradisi mantu kucing ini dilakukan pada pertengahan 2022 lalu.

Sesuai namanya, tradisi ini akan menikahkan dua ekor kucing sebagai simbol ritual. Sesuai tradisinya, masyarakat akan memilih sepasang kucing untuk dinikahkan. Prosesnya bukan seperti pernikahan manusia yang mengucapkan ijab qobul, melainkan kucing akan diarak menuju sumber mata air di desa setempat.

Pengarakan pun tidak boleh dilakukan bersama, kedua kucing harus dipertemukan dari dua arah yang berbeda. Keduanya akan dipertemukan di sebuah mata air yang biasa disebut Umbul Sari dan selanjutnya dimandikan bersama.

Selama proses mengarak atau mempertemukan dua pasangan kucing ini, warga akan mengiringinya dengan berbagai macam sesaji. Selain itu juga ada tumpeng komplit dan iring-iringan musik tradisional yang disertai kesenian lokal seperti jaranan.

Ali Burhanudin tokoh setempat, mengatakan bahwa tradisi ini akan mengawinkan dua ekor kucing yang sudah memiliki identitas. Masyarakat memberikan nama dua pasangan kucing dengan nama Slamet dan Rahayu. Tuan rumah atau wali dua ekor kucing tersebut diberi nama Joko Tirto.

Pengambilan nama ini bukan tanpa sebab. Dalam bahasa Jawa Slamet berarti selamat sementara Rahayu berarti sejahtera. Diharapkan, tradisi ini dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dan menjauhkan segala musibah sepanjang tahun.

Di akhir ritual mantu kucing, warga akan melepaskan keduanya setelah dimandikan di sumbe mata air. Selanjutnya, ritual akan ditutup dengan selamatan atau tasyakuran. Biasanya, puncak dari tradisi ini akan ditutup dengan pagelaran wayang kulit yang berhubungan dengan ritual bersih desa.

Sumber:IDNtimes.com//Redaksi

Pos Terkait

Pos Terkait