Halalbihalal UTM Hadirkan Mohammad Nuh, Tekankan Kolaborasi dan Nilai Spiritual

46 dilihat
IMG 20260326 183429
Kegiatan Halal Bihalal Bersama M Nuh di UTM
A-AA+A++

Wecarejatim.com | BANGKALAN — Momentum Halalbihalal Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) berlangsung khidmat dan penuh makna. Kegiatan yang digelar di Gedung Pertemuan RP Mohammad Noer, Kamis (26/3/2026), menghadirkan Rois Syuriah PBNU Mohammad Nuh sebagai pengisi Mau’idhah Hasanah.

Mengusung tema “Menguatkan Kolaborasi Menuju Kampus Berdampak”, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus refleksi spiritual bagi seluruh civitas akademika UTM.

Dalam sambutannya, Prof. Nuh menyampaikan apresiasi atas komitmen UTM yang terus berupaya menjadi kampus unggul dan berdampak bagi masyarakat.

“UTM terus istiqomah berkhidmat, memberikan pelayanan terbaik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini bukan hanya investasi kebaikan dunia, tetapi juga untuk akhirat,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Rektor UTM Safi, Ketua Senat Prof. Muhammad Nizarul Alim, para pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, hingga perwakilan mahasiswa.

Rektor UTM, Prof. Safi’, menyampaikan bahwa kegiatan halalbihalal ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum untuk memperdalam ilmu dan memperkuat nilai kebermanfaatan.

 “Di momen ini kami bisa mengaji tentang bagaimana kehidupan yang terus bermanfaat bagi sesama,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Prof. Nuh yang telah meluangkan waktu di tengah kesibukannya untuk hadir dan memberikan tausiyah kepada civitas akademika UTM.

 “Terima kasih atas tausiyah yang disampaikan kepada kami,” sambungnya.

Dalam tausiyahnya, Prof. Nuh mengangkat tema pembelajaran dari kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS. Ia menekankan pentingnya sikap rendah hati dalam menuntut ilmu, kesungguhan mencari guru, serta menjaga etika sebagai seorang pelajar.

Menurutnya, proses pembelajaran sejati tidak hanya berkutat pada logika semata, tetapi juga menyentuh dimensi kebijaksanaan dan nilai-nilai etika.

“Ilmu itu tidak hanya soal logika, tapi juga wisdom. Kita sering kali mengalami defisit dalam hal ini,” ungkapnya.

Ia juga mengisahkan perjalanan seorang sufi di padang pasir sebagai refleksi makna tawakal dan cinta kepada Allah. Dalam kisah tersebut, manusia kerap merasa ditinggalkan di saat lemah, padahal justru pada kondisi itulah pertolongan Allah paling dekat.

“Manusia sering tertipu oleh persepsi. Ketika merasa sendiri, sebenarnya Allah sedang menjaga dengan cara yang tidak disadari,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, UTM tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memperkuat nilai spiritual dan kolaborasi sebagai fondasi menuju kampus yang berdampak bagi masyarakat luas.

Pos Terkait

Pos Terkait