Wecarejatim.com, Bangkalan – Penetapan nama Said Abdullah Sport (SAS) Center pada salah satu gedung baru di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menuai kritik dari sejumlah alumni. Fathur Rahman Said, alumnus UTM yang akrab disapa Jimhur Saros, menilai keputusan tersebut sarat kepentingan politik dan tidak mencerminkan etika dunia pendidikan.
Menurut Jimhur, penggunaan nama Said Abdullah—yang saat ini masih hidup dan berstatus sebagai politisi aktif—menyimpan persoalan mendasar. Ia menilai penamaan gedung kampus dengan nama politisi aktif mengandung nuansa transaksional yang tidak pantas terjadi di lingkungan akademik.
“Menurut saya orang mau ngasih hibah pribadi dan program yaa silahkan aja, tetapi penggunaan nama di salah satu gedung itu saya rasa tidak etis dilakukan oleh seorang politisi aktif yang kontribusi di UTM dan dunia pendidikan secara umum. Beda dengan Pahlawan Nasional, misalnya Gusdur dan Syaichona Cholil dan Raden Trunojoyo, yaa monggo, emang pantas diabadikan di gedung dan jalan, pantaslah,” ujar Jimhur.
Ia juga menilai keputusan tersebut berpotensi menyinggung keluarga pendiri Universitas Bangkalan (Unibang), nama awal UTM sebelum dinegerikan. Kampus tersebut dulunya dibangun sebagai lembaga pendidikan swasta sebelum akhirnya diserahkan kepada negara pada masa Presiden KH. Abdurrahman Wahid.
“Begini yaa, tidak banyak mahasiswa dan alumni UTM yang tahu bahwa dahulu UTM itu merupakan kampus swasta dan mungkin adalah kampus pertama di Bangkalan dan Madura. Itu siapa pendirinya? Siapa tokoh-tokohnya? Sumbangsihnya jelas dunia pendidikan dan jasanya untuk kampus ini dan masyarakat, tapi kenapa itu tidak nama pendiri saja yang diabadikan?” tegasnya.
Jimhur menyayangkan keputusan pimpinan kampus yang menurutnya tidak mempertimbangkan sejarah, jasa, dan kontribusi para tokoh yang membangun pondasi awal kampus tersebut. Ia mempertanyakan indikator yang digunakan untuk memilih seorang politisi aktif sebagai nama gedung, terlebih dari partai politik tertentu.
“Apa karena banyak nyumbang, pertimbangannya apa saya juga tidak paham. Kalau pertimbangannya materi, yaa itu siapa saja boleh buat gedung di sana lalu dikasih nama yang bangun gedung itu. Ini maksud saya kampus menjadi obyek transaksional, yaa apa seperti itu?” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, Rektor UTM, Safi, belum memberikan keterangan meski telah dihubungi berkali-kali.












