MaduraSampang

Antara Majelis Shongai Barokah dan Dengkuran Mesin Vespa

×

Antara Majelis Shongai Barokah dan Dengkuran Mesin Vespa

Sebarkan artikel ini

Wecarejatim.com, Sampang – Di balik ketegasan seorang Kasat Reskrim Polres Sampang, Ipda Nur Fajri Alim menyimpan dua dunia yang membentuk kesehariannya: Shongai Barokah yang menata batin, dan sebuah Vespa klasik yang menenangkan pikirannya di jalanan. Dua dunia itu berjalan beriringan, saling mengisi, dan menjadi fondasi yang membuatnya tetap stabil di tengah kerasnya tugas reserse.

Dalam pekerjaannya, Fajri dituntut bergerak cepat. Laporan datang tanpa jeda, kasus baru bermunculan, dan masyarakat membutuhkan kepastian. Ketegasan serta ketepatan keputusan menjadi syarat utama. Namun di balik itu semua, ia paham bahwa perwira yang baik tidak boleh kehilangan kemanusiaan. Ia membutuhkan ruang untuk kembali tenang, kembali utuh, kembali menjadi dirinya sendiri.

Ruang itu ia temukan di Majelis Shongai Barokah—sebuah pengajian yang ia selenggarakan secara rutin di rumahnya. Shongai merupakan akronim dari sholawat, ngaji, santai, tiga kata sederhana yang menggambarkan suasana majelis tersebut. Tidak ada formalitas berlebihan, tidak ada sekat antara pangkat dan profesi. Semua yang datang diperlakukan sebagai saudara.

Majelis ini dihadiri berbagai kalangan: anak muda, pekerja, tokoh masyarakat, hingga para kiai sepuh. Mereka duduk bersama, menikmati lantunan sholawat dan kajian yang disampaikan secara teduh. Fajri mungkin tidak tampil sebagai penceramah, tetapi perannya sebagai tuan rumah amat terasa—dari menyiapkan tempat hingga memastikan semua jamaah merasa nyaman.

Bagi Fajri, Shongai Barokah bukan sekadar kegiatan rutin. Ia adalah wadah untuk menata hati, membersihkan niat, dan mengingat kembali esensi pelayanan. Di sana ia belajar kembali tentang empati, kesabaran, serta arti merendahkan hati dalam profesi yang kerap menuntut ketegasan tinggi.

“Kalau hati tidak dijaga, tugas bisa membawa kita pada sikap yang keliru,” ujarnya suatu ketika.

Namun ketika majelis selesai dan jamaah mulai bubar, ada dunia lain yang segera memanggilnya. Dunia itu berada di garasi: sebuah Vespa klasik dengan dengkuran mesin khas yang selalu membuatnya tersenyum. Motor itu sudah menemani Fajri bertahun-tahun, melewati perjalanan panjang penuh cerita.

Vespa bagi Fajri bukan sekadar hobi, tetapi ruang kontemplasi. Ia merawatnya sendiri, membongkar dan merangkai kembali bagian-bagiannya, seolah merapikan pikirannya yang kusut. Ketelatenan itu membuatnya semakin dekat dengan karakter mesin tua ini. Vespa mengajarkan bahwa tidak semua hal bisa dipaksa cepat; beberapa hal memang harus dijalani pelan-pelan.

Tak jarang, setelah hari yang melelahkan, Fajri memutar kunci Vespa dan membiarkan dirinya melaju perlahan menyusuri jalanan kota. Tidak ada tujuan khusus, tidak ada target jarak. Hanya angin sore, suara mesin, dan ruang kosong untuk berpikir. Di atas Vespa itulah ia merapikan strategi, mendinginkan kepala, atau sekadar diam menikmati kehidupan.

Dengkuran mesin Vespa, yang bagi sebagian orang hanya suara motor tua, bagi Fajri justru menjadi teman yang setia. Suara itu seperti ritme yang mengajak dirinya untuk kembali fokus, kembali tenang, dan kembali mengingat bahwa hidup tidak hanya tentang mengejar, tetapi juga memahami proses. Sebuah meditasi bergerak yang selalu berhasil membuatnya kembali jernih.

Dari Vespa pula ia belajar bahwa kesederhanaan tidak kalah penting dari ketegasan. Motor yang tidak mewah itu membawanya dekat dengan banyak komunitas, membuatnya mudah berbaur dengan siapa saja. Ia menjadi perwira yang bisa tegas di kantor, tetapi cair bersama masyarakat ketika berada di jalanan.

Pada akhirnya, dua dunia ini—Shongai Barokah dan Vespa—membentuk keseimbangan yang sulit ditemukan pada banyak perwira seusianya. Satu menata rohani, satu menata diri. Satu mengajarkan kelembutan, satu mengajarkan keteguhan. Semua itu menyatu dalam kehidupan Fajri yang sederhana tetapi penuh makna.

Dan di sela kesibukan menangani kasus demi kasus, Fajri tahu bahwa selama majelis itu tetap hidup dan mesin Vespa itu tetap berdenyut, ia akan selalu memiliki tempat untuk kembali pulang—tempat yang menjaga hatinya tetap lembut, dan pikirannya tetap kuat.