Wecarejatim.com, Pamekasan – Forum Pemuda Raas (FPR) Kabupaten Sumenep terus menunjukkan komitmennya memperjuangkan hak-hak dasar warga kepulauan, khususnya dalam pelayanan kelistrikan. Kamis (13/11/2025), perwakilan FPR secara resmi menyerahkan surat permohonan audiensi kepada Manajer PLN UP3 Madura, Fahmi Fahrezi, di Kantor PLN UP3 Madura, Pamekasan.
Surat bernomor 01/A/AMK/SMP/XI/2025 itu diserahkan langsung oleh Imam Suyudi, Sekretaris Umum FPR Sumenep, didampingi beberapa anggota dan tokoh pemuda Raas, seperti Nurifan Hairi, S.H., Feri Irawan, dan Hariri Ubaidillah. Audiensi dijadwalkan berlangsung pada Senin, 17 November 2025, pukul 13.00 WIB di Kantor UP3 Madura, dan diperkirakan dihadiri sekitar 50 perwakilan massa FPR.
Dalam keterangannya, Imam Suyudi menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk kepedulian pemuda terhadap kondisi kelistrikan Pulau Raas yang kerap tidak stabil.
“Kami datang dengan itikad baik, membawa kajian dan solusi nyata agar pelayanan listrik di Raas bisa berjalan optimal. Ini bukan sekadar kritik, tapi bentuk tanggung jawab moral terhadap masyarakat kepulauan,” ujarnya.
FPR menilai bahwa PLN perlu membuka ruang dialog yang konstruktif dan transparan agar keluhan masyarakat dapat ditangani secara sistematis. Mereka juga menekankan bahwa hak atas listrik yang layak merupakan bagian dari hak dasar warga negara.
Namun demikian, FPR juga menegaskan bahwa apabila dalam audiensi tersebut tidak tercapai kesepakatan atau terjadi wanprestasi terhadap akta integritas dan rekomendasi hasil audiensi, maka pihaknya akan menggelar aksi besar-besaran pada 20 November 2025.
“Kami sudah siapkan langkah lanjutan. Jika hasil audiensi tidak menunjukkan komitmen nyata, kami akan turun bersama mahasiswa asal Pulau Raas se-Madura. Ini bukan ancaman, tapi bentuk perjuangan rakyat kepulauan,” tegas Hariri Ubaidillah, Ketua Umum FPR.
Sementara itu, Manajer PLN UP3 Madura, Fahmi Fahrezi, belum memberikan tanggapan resmi terkait surat audiensi maupun rencana aksi lanjutan yang disampaikan FPR.
FPR berharap PLN dapat merespons cepat dan membuka ruang komunikasi terbuka agar masalah kelistrikan di Pulau Raas segera menemukan solusi permanen — bukan hanya perbaikan sementara yang berulang.












