Wecarejatim.com, Surabaya – Provinsi Jawa Timur sebagai daerah penghasil minyak dan gas (migas) terbesar ketiga setelah Riau dan Kalimantan Timur.
Penjabat Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono menegaskan, Jatim mendukung target produksi minyak 1 juta barel oil per day (BPOD) dan gas 12 billion standard cubic feet day (BSCFD) tahun 2030.
Data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), hingga Maret 2024, tercatat produksi minyak bumi dan kondensat di Jatim sebesar 172,227 barel oil per day (BOPD) dan 734,07 million metric standard cubic feet day (MMSCFD) atau standar kaki kubik per hari.
“Luar biasa, ini menunjukkan sektor ini sangat potensial dan menjanjikan,” katanya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim), bersama dengan Pemerintah Kabupaten Kota, lanjut Adhy Karyono memberikan dukungan penuh dengan eksplorasi migas tersebut.
Dirinya berjanji akan membuka pintu lebar lebar, kepada investor sektor migas untuk berinvestasi di wilayah Jatim. Selain itu, juga memberikan kemudahan perizinannya.
“Kemudian kami juga dengan seluruh kawasan kita berikan percepatan untuk secepat mungkin persoalan administrasi kita bereskan. Namun demikian kami juga berharap bahwa keberadaan migas yang besar, bisa memberi kontribusi yang besar bagi pendapatan Provinsi Jawa Timur,” lanjutnya..
Adhy melanjutkan, untuk memberikan kemudahan bagi kontraktor maupun investor, diperlukan manajemen rantai pasok melalui database yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Antara lain, penerapan digitalisasi rantai pasok akan dapat memberikan solusi, terobosan teknologi, serta strategi efektif dalam menyelesaikan permasalahan kompleks operasional hulu migas.
“Saya salut dengan digitalisasi di dalam rantai pasok di sektor migas yang sudah kuat sehingga memudahkan satu pintu terkoneksi dengan semua stakeholder. Selain itu, pemerintah juga mampu memberikan kemudahan perizinan bagi investor,” kata Adhy.
SKK Migas mengungkapkan, cekungan Jawa Timur Lau (North East Java Basin – NEJB) masih menyimpan potensi sumber daya migas yang cukup besar. Penasihat Ahli Kepala SKK Migas, Nanag Abdul Manaf menjelaskan, Cekungan Jawa Timur Laut, menjadi salah satu cekungan migas yang penting di Indonesia.
“Sebab terdapat lebih dari 10.3 miliar barel setara minyak in place yang telah ditemukan di wilayah ini. Dan sumber daya tersebut juga masih dianggap sebagai wilayah yang belum dieksplorasi. Dan masih terdapat 9,9 miliar barel setara minyak yang belum ditemukan,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif telah menyetujui rencana pengembangan lapangan pertama atau Plan of Development I (POD I) Petronas Carigali North Madura II, di Lapangan Hidayah yang merupakan bagian dari Wilayah Kerja North Madura II.
Persetujuan tersebut diberikan Menteri ESDM melalui surat persetujuan tanggal 27 Desember 2022 yang merupakan jawaban atas rekomendasi yang disampaikan oleh SKK Migas.
Petronas Carigali North Madura II baru menemukan cadangan setelah melakukan pengeboran tiga sumur eksplorasi di wilayah ini. Sumur terakhir yang dibor adalah Hidayah-1 yang menghasilkan penemuan dengan estimasi cadangan minyak sekitar 88,55 Million Stock Tank Barrel (MMSTB).
Lapangan Hidayah berlokasi sekitar 6 kilometer di utara Pulau Madura. Di kawasan ini, beberapa lapangan migas sudah terlebih dahulu beroperasi.
Sementara itu, Wakil SKK Migas Shinta Damayanti saat di Surabaya menghadiri kegiatan Indonesian Oil & Gas Supply Chain Management Summit 2024 (IOG SCM Summit 2024) Juli lalu mengungkapkan, tahun 2024 ini merupakan tahun yang berat, karena beberapa tahun terakhir target produksi dan lifting belum tercapai.
“Sementara berdasarkan long time planning yang telah disiapkan oleh SKK Migas, kita selalu menempatkan target-target yang agresif dari tahun ke tahunnya,” terangnya.
Shinta menegaskan, dibutuhkan kerja keras dan semangat yang tinggi dan fungsi Supply Chain Management (SCM), menjadi ujung tombak dalam mendukung target produksi Migas tanah air.
“Target produksi dan lifting merupakan tanggung jawab kita bersama, karena fungsi SCM diharapkan menjadi fungsi yang dapat memberikan strategis kepada industri hulumigas dalam pengelolaan barang dan jasa,” tegasnya.
Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) SKK Migas, lanjut Shinta, selalu mendorong keterlibatan yang lebih banyak dari industri dan tenaga kerja dalam negeri untuk menunjang kegiatan operasi volume gas, karena selain meningkatkan kemampuan dan kapasitas nasional dalam mendukung ketahanan supply, keterlibatan industri dan tenaga kerja dalam negeri juga memberikan efek berganda atau multiplier effect.
“Sehingga dapat menumbuhkan perekonomian nasional,” ucapnya.
Digitalisasi rantai pasok, Shinta menambahkan, menjadi penyelesai permasalahan, sehingga dapat menargetkan meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan memberikan nilai tambah pada kegiatan hulu migas.
“Data dan digitarisasi itu sangat penting. Dalam memasuki era baru, penerapan teknologi konektivitas industri 4.0 dibutuhkan informasi geospasial sebagai himpunan sampul data, pemanfaatan ruang dan perencanaan strategis eksplorasi dan optimalisasi produk migas,” paparnya.
Dalam prosesnya, Shinta juga menambahkan bahwa SKK migas berkerjasama dengan Kementerian ESDM tentang laporan cadangan dan sumber daya serta Kementerian Keuangan dalam sistem informasi terintegrasi melalui database.
“Semua kami lakukan agar bisa dibaca dalam satu platform dan prosesnya semakin cepat,” tutupnya.
Sumber: RRI/Mid







