Psikologi Cinta Membaca Keluh Kesah Rasa Anak Milenial

87 dilihat
IMG 20240720 WA0043
A-AA+A++

Oleh: Yuriadi

Wecarejatim.com, Opini – Cinta adalah ruang imajinasi yang dapat membuat diri ini bisa tertawa, sedih, pedih, hampa, takut, khawatir, dan pasrah. Cinta mengajak dan tidak jarang memaksa manusia melanggar aturan sosial dan merampok rasa takut menjadi berani. Orang lemah menjadi kuat. Orang malas jadi rajin. Orang bisa jadi tidak bisa dan begitu seterusnya.

Namun ada ruang yang agak berbeda membaca rasa cinta anak milenial dibandingkan dengan anak 90 an. Perbedaan itulah yang coba dianalisa oleh psikologi cinta dengan melihat perilaku individu dari sisi ekspresi emosi yang dimanifestasikan dalam bentuk perilaku tersirat maupun tersurat. Apa saja perbedaannya, bisa kita amati dari beberapa penjelasan berikut.

Cinta anak milenial sangat berbeda dibandingkan dengan rasa cinta anak 90 an. Dimana cinta anak 90 an, keluh kesah dan rasa cinta mereka banyak dituangkan dalam bentuk tulisan yang terkumpul dalam diari dan kemudian bisa dijadikan buku dan ada juga yang hanya untuk konsumsi diri saja.

Namun cinta anak milenial mengumbar kemesraan mereka kepada publik baik dalam bentuk tulisan, sikap, gambar dan video serta perilaku mereka. Dalam bentuk tulisan, gambar dan video, dan kemesraan mereka dipajang di media sosial. Sehingga semua orang mengetahui dan memang sengaja mereka memberi tahu hubungan mereka.

Sesuatu yang mereka posting tidak hanya berupa kemesraan mereka, tapi bisa berupa konflik, masalah dan keruwetan percintaan mereka, sehingga cinta yang notabenenya sangat privasi, berubah menjadi konsumsi publik. Cinta yang sangat istimewa di dalam mata hati, berubah menjadi barang rongsokan diperbincangkan dan diumbar tanpa seni dan alur yang jelas dan pasti.

Atau memang ketidak jelasan dalam cinta anak melinial merupakan kejelasan dalam areal anak melinial. Kadang ungkapan atau pertanyaan itu hadir, tapi tidak harus dijawab terlalu serius, karena memang ada sebagian dari pertanyaan hadir itu tidak harus untuk dijawab dengan logika yang logis.

Jawaban emosiona jauh lebih menarik dan berkesan di mata anak melinial dibandingkan jawaban yang memerlukan analisis dan metode yang rumit dan ruwet. Beda zaman beda kebutuhan. Itulah seninya hidup dalam ruang cinta yang memang tidak ada batas dan norma jelas untuk dijelaskan secara rigid.

Seninya orang jatuh cinta beranika ragam bentuk dan rupa, apalagi keluh kesah anak melinial yang begitu update dengan perkembangan zaman melalui media sosial. Begitu sangat dinamis dan fleksibel. Seolah-olah memberikan cinta tidak akan pernah habisnya untuk diperbincangkan dan diceritakan. Meskipun dengan narasi yang hampir sama, tapi begitu sangat bersemangat untuk mengucapkan.

Bermacam-macam kalimat-kalimat cinta yang diungkapkan oleh semua profesi, baik dari kalangan sastrawan, budayawan, politisi, agamawan, guru, pengusaha dan manusia biasa, apalagi anak melinial. Cinta hadir untuk siapapun, tidak pernah melihat asal usul, warna kulit maupun strata sosial. Cinta memposisikan dirinya sebagai sosok orang tua yang bisa adil memperlakukan anak-anaknya. Tidak ada pemihakan dalam merasakan cinta dalam keadaan dan tekanan apapun. Kebebasan dan kemerdekaan menjadi simbol dari cinta.

*Penulis merupakan Dosen Psikologi Sosial di Universitas 17 Agustus Surabaya (UNTAG Surabaya)

Pos Terkait

Pos Terkait