WECAREJATIM.COM, BANGKALAN — Setelah sempat viral karena siswa belajar di tenda darurat sejak 2025, pembangunan SDN Kajuanak 4 akhirnya resmi dimulai. Menteri Pendidikan, Abdul Mukti, turun langsung melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya revitalisasi sekolah tersebut.
Sekolah yang berada di Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan ini sebelumnya mengalami kerusakan parah hingga membuat ratusan siswa terpaksa belajar di luar ruangan, mulai dari teras hingga tenda darurat, bahkan sebagian harus menumpang di rumah warga selama berbulan-bulan.
Kepala Dinas Pendidikan Bangkalan, Much. Musleh, membenarkan kehadiran Menteri Pendidikan dalam kegiatan tersebut. Ia menyampaikan bahwa kunjungan tersebut merupakan bentuk perhatian langsung dari pemerintah pusat terhadap kondisi pendidikan di daerah.
“Pak Menteri Abdul Mukti langsung menuju ke SDN Kajuanak 4 untuk meletakkan batu pertama pembangunan sebagai bagian dari program revitalisasi,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Abdul Mukti juga menyerahkan secara simbolis bantuan program revitalisasi kepada Kepala Sekolah Ningsih. Ia menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk kehadiran negara dalam menjawab kondisi darurat pendidikan yang dialami para siswa.
“Ini adalah bantuan dari Pemerintah Republik Indonesia untuk SDN Kajuanak 4 yang selama ini siswanya belajar di rumah warga dan di tenda. Semoga bantuan ini benar-benar bermanfaat untuk pendidikan di sini,” ujar Abdul Mukti.
Sementara itu, Ningsih menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan, baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
“Kami sangat berterima kasih atas atensi dari Dinas Pendidikan Bangkalan dan juga pemerintah Republik Indonesia melalui program revitalisasi ini. Semoga pembangunan segera selesai dan bisa dimanfaatkan oleh para peserta didik,” ungkapnya.
Pembangunan ini diharapkan menjadi jawaban atas keluhan para siswa dan wali murid yang selama ini harus menjalani proses belajar dalam kondisi terbatas. Dengan dimulainya revitalisasi, harapan baru pun muncul agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung secara layak, aman, dan nyaman.







