Wecarejatim.com, Surabaya – Gedung Grahadi Surabaya, rumah dinas Gubernur Jawa Timur sekaligus bangunan cagar budaya, luluh lantak dilalap api setelah dibakar massa pada Sabtu (30/8/2025) malam.
Kericuhan bermula dari aksi demonstrasi ribuan orang yang memprotes kebijakan pemerintah dan dugaan kekerasan aparat. Sejak pukul 18.30 WIB, massa menduduki Gedung Grahadi dan menuntut bertemu dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Namun, upaya tersebut gagal karena gubernur tidak hadir di lokasi.
Puncak kerusuhan terjadi sekitar pukul 22.00 WIB. Massa melemparkan kembang api dan bom molotov ke dalam kompleks Grahadi, sehingga api dengan cepat membesar dan meludeskan sebagian besar bangunan. Sejumlah barang inventaris negara seperti printer, pagar besi, dan peralatan kantor dilaporkan ikut dijarah.
Hingga Minggu (31/8/2025) dini hari, api masih terlihat membakar sisi barat gedung. Aparat keamanan yang berusaha memukul mundur massa sempat kesulitan karena jumlah demonstran yang jauh lebih besar.
Gedung Grahadi dibangun pada 1795 oleh Dirk van Hogendorp, Residen Surabaya saat itu, dengan gaya arsitektur khas Belanda Oud Holland Stijl. Awalnya, gedung ini difungsikan sebagai tempat pertemuan resmi dan rumah jamuan (societeit) bagi pejabat kolonial.
Nama Grahadi berasal dari bahasa Sanskerta, yakni graha (rumah) dan adi (utama/mulia), yang berarti Rumah Mulia. Setelah Indonesia merdeka, fungsinya berubah menjadi rumah dinas gubernur Jawa Timur hingga sekarang.
Bangunan ini mengalami perubahan pada masa Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang mengubah atapnya menjadi bergaya Empire Style. Keunikan tersebut masih terlihat hingga sebelum peristiwa kebakaran.
Sebagai ikon Kota Surabaya sekaligus simbol pemerintahan Jawa Timur, hilangnya Gedung Grahadi dianggap sebagai kerugian besar, tidak hanya secara fisik tetapi juga nilai sejarah dan budaya.












