RegionalSosial

Pasutri di Madiun Sulap Karung Goni Jadi Beragam Kerajinan, Pemasarannya Hingga ke Luar Jawa

×

Pasutri di Madiun Sulap Karung Goni Jadi Beragam Kerajinan, Pemasarannya Hingga ke Luar Jawa

Sebarkan artikel ini
mey3ic9mohla9d1

Wecarejatim.com, Madiun – Tak selamanya karung goni hanya mampu menyimpan biji-bijian, beras hingga hasil panen lainnya. Bahkan terkadang, karung goni sering kita  jumpai di tempat sampah.

Tapi tidak bagi pasangan suami istri Yusuf Ardiatno dan Fatmalia Yulinda, warga Jalan Semangka, Kelurahan/Kecamatan Taman, Kota Madiun.

Mereka menyulap karung goni menjadi aneka kerajinan layak jual, seperti tas berbagai ukuran dan model, sandal, topi, serta souvenir lainnya.

Fatma mengaku sudah memulai usahanya sejak 2017 lalu, berawal dari hobi menekuni rajutan.

Saat itu ia mencoba memproduksi tas, hingga akhirnya beralih ke goni sebagai bahan dasar pembuatan kerajinan. Alasanya, banyak karung goni yang justru terbuang sia-sia.

“Goni ini kan memang belum banyak yang mengeksplore ya, jadi belum banyak penggunanya. Jadi saya mencoba mengolah itu karena teksturnya yang berbeda daripada tekstur goni yang sudah jadi,” ujarnya, Jum’at (5/1/2024).

Pasang surut dalam dunia bisnis mampu Ia lewati. Apalagi kala itu wabah covid-19 menghantam habis-habisan sektor ekonomi di Indonesia, membuat usahanya sempat terkendala.

“Kalau jatuh bangunnya itu ya saat pandemi itu. Di awal-awal itu kan memang penjualan kita sedikit, bahannya terbatas, masyarakat juga masih ragu dengan produk kita, tapi karena kita terus melakukan riset seperti apa permintaan pasar, akhirnya kita bisa melangkah sejauh ini,” tambahnya.

Saat mendapat orderan souvenir, ia mampu memproduksi hingga 200 pcs. Sedangkan custom seperti topi, maupun tas sebulan mampu memproduksi puluhan pcs.

Sementara itu Yusuf Ardiatno menyatakan, pemasaran kerajinan goni yang ia buat tidak hanya melalui secara offline, namun juga merambah di media sosial. Bahkan, penjualannya tidak hanya di dalam kota bekerjasama dengan hotel, mall, maupun membuka stand di lokasi wisata, tetapi sudah merambah ke luar pulau Jawa. 

Terbaru, pasangan suami istri ini pernah memamerkan karyanya pada event Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Mandalika. Serta, dalam KTT G-20, dan Global Pengurangan Risiko Bencana atau Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) di Bali tahun lalu.

“Kalau dilihat dari uniknya, masyaralat antusias sekali. Karena ini kan selain memiliki nilai etnis, kita juga menggunakan perca atau bahan bekas sehingga itu menambah nilai dari kerajinan kami,” ucapnya