Wecare Jatim- Di tengah gedung-gedung bertingkat Surabaya, terdapat prostitusi yang masih eksis. Letaknya berada di tengah makam Kembang Kuning, sebuah kompleks makam era Belanda.
Di makam Kembang Kuning berjejer warung-warung kopi yang berbekal lampu teplok sebagai penerangan. Beberapa pria duduk di area makam dan motor yang terparkir di sela-sela makam.
Tak hanya menyesap kopi di warung, mereka juga menikmati secangkir kopi di atas makam. Makam yang didominasi etnis Tionghoa itu beberapa ada penutup untuk berteduh. Hangatnya kopi panas berkawan dengan dinginnya malam yang kebetulan saat itu sedang gerimis.
Di tengah samar-samar cahaya lampu, tampak beberapa wanita sedang merias diri, duduk di atas makam. Ternyata mereka adalah pekerja seks komersial (PSK) yang sedang menunggu pelanggan.
Dilansir dari Detikjatim.com, Selasa (20/12/2022), di salah satu warung kopi di area selatan makam sempat melihat aktivitas mereka dari dekat. Kemudian, datang seorang pria untuk meminum kopi. Baru saja duduk, dia sudah menyapa.
“Sudah dapat mas?” tanya pria tersebut.
Setelah mengobrol singkat, pria itu memperkenalkan diri. Dia mengaku berasal dari Pasuruan, inisialnya AW (39). Ternyata dia sedang mencari kepuasan nafsu sesaat.
Dia sudah beberapa kali ‘jajan’ di makam Kembang Kuning. Terutama kalau dia mengerjakan bangunan di Surabaya. AW merupakan pekerja proyek borongan.
“Biasanya dua minggu sekali, kadang sebulan sekali saya ke sini kalau sedang kerja di Surabaya. Nggak mesti mas. Ini sekarang lagi nggarap kampus,” ujarnya.
AW mengatakan makam Kembang Kuning merupakan tempat penyalur kepuasan tersendiri baginya. Selain murah, ia dapat memilih wanita dengan bebas. Baginya, berhubungan seks di tengah makam memunculkan sensasi tersendiri.
“Yang paling seru itu main di area makam. Kayak La Vegas. Kadang juga deg-degan kalau ada razia gitu,” tutur AW.
Terkadang, lanjut AW, jika ia memiliki rezeki lebih, ia memilih untuk bermain di rumah kontrakan wanita tersebut. Sebab, tarif untuk bermain di makam dengan di rumah kontrakan berbeda.
“Kalau main di makam lebih murah, karena alasnya kardus atau keloso (tikar). Kalau di kontrakan wanitanya lebih mahal, include dengan kamar, padahal kos atau kontrakannya sendiri,” imbuh AW.
Menurut AW, prostitusi di Makam Kembang Kuning tak seramai tahun sebelum COVID-19 melanda. Sebab, saat wabah COVID-19 melanda, makam Kembang Kuning dibatasi.
“Kalau tahun 2018 itu masih ramai. Sekarang agak sepi, apalagi jalan utamanya dipasang lampu, jadi banyak yang pindah ke sini (area makam selatan),” tukas AW.
(Redaksi)









